MAKALAH Pun”. Tujuan tersebut dalam karya tulis ini akan

MAKALAH
1

TAHAPAN
PERSIAPAN BERSAMA (TPB)

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

“TANPA KEMISKINAN MENURUT AGAMA
KHATOLIK”

 

 

Oleh:

Christopher James Setiawan
130110170201

 

 

Fakultas
Kedokteran

Universitas
Padjadjaran

ABSTRAK

            Kemiskinan
masih menjadi salah satu permasalahan terbesar di dunia hingga saat ini. Angka
kemiskinan, khususnya di Indonesia masih tergolong tinggi. Menurut Badan Pusat
Statistik, pada bulan September 2017 jumlah penduduk miskin (penduduk dengan
pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia
mencapai 26,58 juta orang atau sekitar 10,12 persen dari penduduk Indonesia.

Dengan menimbang bahwa kemiskinan adalah salah satu
masalah yang dialami berbagai negara di dunia ini, maka pemberantasan
kemiskinan dan kelaparan merupakan tujuan utama dalam 17 tujuan pembangunan
berkelanjutan tahun 2030 atau lebih dikenal dengan istilah Sustainable Development Goals (SDGs).
Tujuan pertama dari 17 tujuan SDGs adalah
“Mengakhiri Kemiskinan dalam Segala Bentuk Di Mana Pun”. Tujuan tersebut dalam
karya tulis ini akan dibahas menurut ajaran agama Khatolik.

Dalam memberantas kemiskinan tentunya diperlukan
kerjasama dari setiap elemen masyarakat. Dengan bekerjasama, penangan
kemiskinan akan lebih mudah dilakukan dan tujuan pertama SDGs dapat tercapai. Pengetahuan masyarakat tentang kemiskinan yang
menjadi salah satu masalah yang dihadapi dunia saat ini harus lebih
ditingkatkan supaya masyarakat lebih sadar dan dapat memberikan saran untuk
memberantas kemiskinan.

Umat-umat Khatolik juga dapat menerapkan ajaran Gereja
Khatolik untuk menolong sesama demi memberantas kemiskinan. Yesus Kristus
mengajarkan kita untuk mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri
sendiri. Dengan menerapkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari tentu
akan membantu dalam mencapai tujuan untuk mengakhiri kemiskinan.

 

 

 

 

 

KATA
PENGANTAR

            Pemahaman akan kemiskinan yang
menjadi masalah utama dunia saat ini menjadi sangat penting. Kemisikinan harus
segera diatasi supaya meminimalkan timbulnya masalah-masalah baru yang
mengikutinya seperti masalah kesehatan dan sanitasi. Karya ini ingin memberikan
pemahaman tentang kemiskinan dan cara mengatasinya. Negara-negara dunia,
khususnya Indonesia membutuhkan saran dan ide-ide kreatif untuk membantu
mengatasi masalah kemiskinan.

            Karya ini ditulis dengan menggunakan
metode kajian teoritis. Dalam penyusunan karya tulis ini banyak kendala yang
dihadapi penulis. Namun, berkat dukungan dan motivasi berbagai pihak, karya tulis
ini dapat terselesaikan. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima
kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dan membantu dalam penyelesaian
karya tulis ini, yaitu:

1.      Tuhan
Yang Maha Esa yang memberikan kesehatan dan kesempatan sehingga karya tulis ini
dapat terselesaikan.

2.      Orangtua
yang membantu memberikan motivasi serta nasihat yang bermanfaat dalam proses
penulisan yang cukup banyak menyita waktu.

3.      Para
Dosen pengajar Tahapan Persiapan Bersama (TPB) dalam memberikan ilmu dan
membimbing mahasiswa dalam pekuliahan Tahapan Persiapan Bersama (TPB).

4.      Teman-teman
lain yang telah memberikan motivasi dalam penulisan karya ini.

Penulis
menyadari bahwa masih banyak kekuruangan yang ditemukan pada karya ini. Oleh
karena itu, para pembaca dan dosen-dosen diundang untuk memberikan masukan,
saran, dan kritik yang dapat membuat penulis lebih baik lagi kedepannya. Dengan
itu, penulis dapat menjadilebih cermat dalam hal perbaikan dan penyempurnaan
penyusunan karya tulis berikutnya.

Akhir
kata semoga karya tulis ini dapat memberikan informasi dan menjadi wawasan
kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Padjadjaran.

Jatinangor,
6 Januari 2018

Penulis

DAFTAR
ISI
aBSTRAK
I
KATA
PENGANTAR
II
DAFTAR ISI
III
 
BAB I PENDAHULUAN
1
Latar Belakang
1
Rumusan
Masalah
2
Tujuan
2
Manfaat
2
 
BAB
II PEMBAHASAN
3
Gambaran
Umum Kemiskinan
3
Definisi Kemiskinan
3
Ciri-Ciri Kemiskinan
4
Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan
5
Kondisi
Kemiskinan Dunia dan Indonesia
6
Dunia
6
Indonesia
6
Kemiskinan
dari Sudut Pandang Agama Khatolik
7
Solusi
untuk Mengatasi Kemiskinan Menurut Pandangan Agama Khatolik
9
Solusi
untuk Mengatasi Kemiskinan Secara Umum
10
 
 
BAB
III PENUTUP
11

Kesimpulan
11
Saran
11
 
DAFTAR Pustaka
v
 

BAB
I
PENDAHULUAN

1.1.     
Latar
Belakang

Sustainable
Development Goals (SDGs) atau
dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan istilah “Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan” adalah tujuan yang ingin dicapai negara-negara dunia melalui
tujuan berkelanjutan yang didasari oleh hak asasi manusia dan kesetaraan dalam
bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup. SDGs memiliki prinsip bahwa tidak akan ada seorang pun yang
terlewatkan atau dikenal dengan istilah “No-one
Left Behind”.  SDGs disepakati bersama oleh negara-negara yang tergabung dalam PBB
pada 21 Oktober 2015. SDGs terdiri
dari 17 tujuan dan 169 target demi melanjutkan upaya dan pencapaian dari
Millennium Development Goals (MDGs) yang telah selesai pada tahun 2015 lalu.

Salah satu dari 17 tujuan SDGs adalah Tanpa Kemiskinan atau dalam
Bahasa Inggris dikenal dengan “No Poverty”.
Tanpa kemiskinan merupakan tujuan pertama dari SDGs dan merupakan tujuan utama dari tujuan agenda pembangunan
berkelanjutan. Kemiskinan yang dahulu adalah tujuan utama MDGs kini kembali
menjadi tujuan utama dalam SDGs.
Persoalan, penyebab, serta solusi untuk mengatasi kemiskinan juga dapat dilihat
dari berbagai sisi, salah satunya adalah dari sisi agama Khatolik. Dengan
menerapkan ajaran Gereja Khatolik dan Firman Allah dalam kehidupan umat-umat
Khatolik, kemiskinan diharapkan dapat dikurangi dan diberantas. Kerjasama dari
setiap elemen masyarakat akan sangat berdampak dalam pemberantasan kemiskinan.

1.2.     
Rumusan
Masalah

1.2.1.      Bagaimana
konsep kemiskinan secara umum.

1.2.2.      Bagaimana
konsep kemiskinan dari sudut pandang Agama Khatolik dan kekristenan.

1.2.3.      Bagaimana
solusi dan cara menangani kemiskinan.

 

 

1.3.     
Tujuan

1.3.1.      Untuk
mengetahui konsep kemiskinan secara umum.

1.3.2.      Untuk
mengetahui konsep kemiskinan dari sudut pandang Agama Khatolik dan kekristenan.

1.3.3.      Untuk
mengetahui solusi dan cara menangani kemiskinan.

1.4.     
Manfaat

1.4.1.      Memberikan
informasi tentang konsep kemiskinan secara umum.

1.4.2.      Memberikan
informasi tentang konsep kemiskinan dari sudut pandan Agama Khatolik dan
kekristenan.

1.4.3.      Memberikan
informasi tentang solusi dan cara menangani kemiskinan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB
II
PEMBAHASAN

1.     
 

2.     
 

2.1.     
Gambaran
Umum Kemiskinan

2.1.1.    
Definisi
Kemiskinan

Kemiskinan berasal dari kata “miskin”
/mis?kin/ yang berarti tidak berharta;
serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Kemiskinan /ke?mis?kin?an/ sendiri berarti hal
miskin; keadaan miskin. Dalam KBBI Kemiskinan mempunyai arti absolut, yaitu
situasi penduduk atau sebagian penduduk yang hanya dapat memenuhi makanan,
pakaian, dan perumahan yang sangat diperlukakan untuk mempertahankan tingkat
kehidupan yang minimum.

Istilah
kemiskinan merupakan istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan
masyarakat yang sedang berkembang. Secara konsep terdapat dua pengertian dari
kemiskinan, yaitu:

1.      Secara
kualitatif, kemiskinan adalah kondisi saat manusia tidak mempunyai taraf
kehidupan yang layak.

2.      Secara
kuantitatif, kemiskinan adalah kondisi ketika manusia tidak mempunyai harta
benda. (Mardimin, 1996:20)

Makna kemiskinan menurut Suparlan
(2004:315) kemiskinan melambangkan rendahnya level taraf kehidupan, yaitu keadaan
seorang atau sekelompok orang yang kehidupannya tergolong di bawah standar
kehidupan orang-orang pada umumnya. Kondisi ini tentunya mempengaruhi keadaan
kesehatan, moral, dan rharga diri mereka.

Ritongga (2003:1) mengartikan kemiskinan sebagai
kondisi kehidupan yang serba berkekurangan yang dialami seorang atau sekelompok
orang sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan minimal apalagi memperoleh
kebutuhan yang layak bagi kehidupan dirinya dan keluarganya.

Dengan demikian kemiskinan dapat diartikan
sebagai kondisi rendahnya taraf kehidupan yang menyebabkan kettidakmampuan dalam memenuhi
kebutuhan minimal. Kondisi tersebut secara langsung mempengaruhi
keadaan kesehatan, moral, dan rasa harga diri mereka.

2.1.2.    
Ciri-Ciri
Kemiskinan

Kemiskinan
adalah sebuah kondisi sosial yang menjadi masalah dan selalu hadir di antara
masyarakat, kemiskinan adalah konsep yang dapat dilihat dari berbagai dimensi.
SMERU Research Institute memperlihatkan bahwa kemiskinan memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:

·        
Tidak dapat mencukupi kebutuhan papan,
sandang, dan pangan.

·        
Masa depan yang tidak pasti karena tidak
mempunyai investasi apapun, baik pendidikan maupun harta benda.

·        
Rentan terhadap masalah.

·        
Kualitas SDM yang rendah dan SDA yang
terbatas.

·        
Pengangguran karena minimnya lapangan
pekerjaan.

·        
Disabilitas menyebabkan tidak mampunya
seseorang dalam melakukan usaha.

·        
Mengalami ketidakberuntungan sosial.

 

2.1.3.    
Faktor-Faktor
Penyebab Kemiskinan

Banyak faktor yang
mempengaruhi tingkat kemiskinan. Faktor-faktor tersebut dapat dikategorikan
menjadi dua, yaitu:

a.       Faktor
manusiawi:

1.      Rendahnya
wawasan dan buruknya sikap,

2.      Keterampilan
yang rendah,

3.      Hedonisme,

4.      Sikap
apatis; egois; serta pesimistis,

5.      Adanya
kesenjangan sosial,

6.      Keterikatan
akan adat dan kebiasaan,

7.      Keberadaan
teknologi baru yang hanya menguntungkan golongan atas,

8.      Pendidikan
yang rendah

9.      Populasi
yang tinggi,

10.  Pengangguran
dan kurangnya lapangan kerja, dan

11.  Tidak
dapat memanfaatkan SDA dan SDM setempat.

(Manurung, dalam Bulletin YDS, 1993:4)

b.      Faktor
di luar manusia:

1.      Faktor
alam, seperti lahan yang tidak subur,

2.      Kurangnya
infrastruktur dan fasilitas umum,

3.      Sulit
memperoleh modal,

4.      Ketidakstabilan
harga hasil bumi,

5.      Kurangnya
jangkauan media dan informasi

(Manurung, dalam Bulletin YDS, 1993:5)

2.2.     
Kondisi
Kemiskinan Dunia dan Indonesia

2.2.1.    
Dunia

Data terbaru menunjukkan bahwa 767
juta orang di dunia ini hidup di bawah Garis Kemiskinan Internasional, yaitu
sebesar $1.90 atau sekitar Rp 25.494,20 per hari. Di bawah 10 persen dari
pekerja dunia menghidupi keluarganya dengan penghasilan di bawah Garis
Kemiskinan tersebut per orang per harinya. Mayoritas dari orang-orang tersebut berasal
dari wilayah Asia Selatan dan sub-Saharan Afrika. Angka kemiskinan tertinggi
biasanya ditemukan pada negara yang tergolong kecil, rawan/rentan, dan memiliki
banyak konflik. Sebanyak 1 dari 4 anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun tidak
memiliki tinggi yang sesuai dengan anak-anak pada usianya. Selain itu, setiap
hari pada tahun 2014, sebanyak kurang lebih 42.000 orang harus meninggalkan
tempat tinggalnya untuk mencari perlindungan karena konflik-konflik, seperti
perang yang sedang dialami negaranya.

2.2.2.    
Indonesia

Pada bulan September 2017, jumlah
penduduk miskin atau penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah
Garis Kemiskinan di Indonesia mencapai 26,58 juta orang atau sekitar 10,12
persen. Jumlah tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan kondisi pada
bulan Maret 2017 yang sebesar 27,77 juta orang atau sekitar 10,64 persen yang
dapat diartikan berkurang sekitar 1,19 juta orang. Penduduk miskin di daerah
perkotaan pada bulan Maret 2017 sebesar 10,67 juta orang atau sekitar 7,72
persen turun menjadi 10,27 jutta orang atau sekitar 7,26 persen pada September
2017. Dapat diartikan turun sebanyak 401,28 ribu orang. Sementara itu, penduduk
miskin di daerah perdesaan pada Maret 2017 sebesar 17,10 juta orang atau
sekitar 13,93 persen turun sebanyak 786,95 ribu orang menjadi 16,31 juta orang
atau sekitar 13,47 persen pada September 2017.

2.3.     
Kemiskinan
dari Sudut Pandang Agama Khatolik

Kemiskinan tertulis dan dijelaskan
dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Kemiskinan di dalam Alkitab digambarkan
dengan ketidakadilan dan juga penindasan yang dilakukan oleh para penguasa,
seperti yang diceritakan pada Ayub 24:2-14. Kemiskinan bukan merujuk pada nasib
seseorang, tetapi kemiskinan disebabkan oleh perbuatan jahat penguasa. Nabi
Yesaya mengatakan dalam Yesaya 10:1-2 bahwa orang yang dianggap miskin adalah
orang-orang yang hak-haknya dirampas daripada mereka. Perjanjian Lama mencatat
bahwa Allah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir seperti tertulis
pada Keluaran 4:23 yang berbunyi “Biarkan umat-Ku pergi agar mereka dapat
beribada kepada-Ku.”

Orang-orang
miskin juga diceritakan dalam Perjanjian Baru. Dalam Kitab-Kitab inji ditulis bahwa
orang miskin hidup bersama-sama dengan orang lumpuh,
tuli, dan kusta. Orang-orang yang dikatakan miskin bukan hanya pengemis yang
meminta-minta karena memiliki kelemahan fisik, melainkan juga budak yang
melarikan diri; orang-orang yang dalam pengungsian; serta orang-orang yang dalam
pelarian karena tidak bisa membayar utang mereka. Yesus sendiri menyamakan
diri-Nya dengan orang-orang miskin, “Anak manusia tidak mempunyai tempat untuk
meletakkan kepala-Nya.” (Matius 8:20) Di dalam Lukas tertulis bahwa sesudah
kelahiran-Nya, Yesus “dibaringkan dalam palungan karena tidak ada tempat bagi
mereka di rumah penginapan” (Lukas 2:7). Oleh karena, Paulus mengatakan “Ia
menjadi miskin, sekalipun Ia kaya” (1 Korintus 8:9). Dalam khotbahnya, Yesus
berkata “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah; karena merekelah
yang empunya Kerajaan Sorga.” (Matius 5:3). Kaum miskin bukan berarti kaum yang
ditindas dan tidak memiliki kedudukan dan hak suara di dalam kehidupan
bermasyarakat. Tuhan jelas tidak menyukai adanya ketidakadilan. Yesus turun ke
dunia menandakan berakhirnya kemiskinan dan dihapuskannya kemalangan. Perkataan
Yesus pada Matius 5:3 bukan berarti hidup dengan kemiskinan materi, melainkan
hidup dengan ketaatan akan Allah sekalipun di dalam kehidupan seeseorang
terjadi penindasan dari pihak-pihak yang berkuasa di dunia ini karena materinya.

Katekismus Gereja Khatolik juga
mengajarkan kita tentang kemiskinan. Dalam Katekismus Gereja Khatolik nomor
2447, diajarkan bahwa kita harus menerapkan buah kasih yang merupakan perbuatan
cinta kasih dalam Yesus Kristus dengan membatu sesama kita memenuhi kebutuhan
jasmani dan rohaninya. Karya-karya belas kasihan jasmani dapat berupa: memberi
makanan kepada orang yang mengalami kelaparan; memberi perlindungan untuk
orang-orang tunawisma; memberikan pakaian kepada orang yang tidak memiliki
pakaian; mengunjungi orang-orang yang membutuhkan, seperti orang-orang miskin
dan tahanan; serta menguburkan orang mati. Di dalam Lukas 3:11 tertulis bahwa
“Barang siapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak
punya, dan barang siapa mempunyai makanan, hendaklah ia juga berbuat demikian.”
Tertulis juga dalam Yakobus 2:15-16, “Akan tetapi berikan isinya sebagai
sedekah dan mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang
dari antara kamu berkata: ‘Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah
sampai kenyang!’, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi
tubuhnya, apakah gunanya itu?”

2.4.     
Solusi
untuk Mengatasi Kemiskinan Menurut Pandangan Agama Khatolik

Dalam memberantas kemiskinan diperlukannya
pemahaman akan Hukum Allah yang diterima Musa di gunung Sinai yang menjadi peraturan
mengikat dan mengatur relasi Allah dengan para umat, sekaligus melindungi para
umat dari ketidakadilan dan penderitaan. Kepedulian Allah terhadap penderitaan kaum
miskin tetap berlanjut dengan mengirimkan Yesus ke tengah dunia. Yesus datang dengan
membawa kabar baik bagi manusia dan mengajarkan murid-murid Yesus untuk
mengasihi orang yang berkekurangan seperti yang tertulis dalam Markus 14:7,
“Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka
bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.”
(Markus 14:7)

Umat Kristiani diajak untuk terus
meningkatkan partisipasinya dalam mengatasi kemiskinan dengan melakukan aksi-aksi
sehingga Gereja terlibat secara langsung dalam memberantas kemiskinan. Gereja harus
selalu berusaha melakukan interaksi dan menjalin hubungan serta kerja sama
dengan umat beragama lain dan juga pemerintah untuk mengatasi kemiskinan, sehingga
kehadiran Gereja benar-benar bertujuan untuk menghargai setiap manusia tanpa
membeda-bedakan latar belakang suku, agama, ras, dan golongan. Gereja juga
perlu mengajarkan umatnya bahwa kehidupan iman harus diimbangi dengan kehidupan
kerja (ora et labora). Berkat Allah
diberikan saat manusia mau berusaha dengan sungguh-sungguh dan menggunakan
berkat yang diterima demi memuliakan Allah melalui pelayanan kepada sesama
manusia dan juga kepada Allah sendiri.

2.5.     
Solusi
untuk Mengatasi Kemiskinan Secara Umum

Kemiskinan
hanya bisa diatasi jika semua pihak terlibat, seperti pemerintah, kalangan
swasta, organisasi kemasyarakatan, akademisi, politikus, dan tentunya
masyarakat itu sendiri. Adanya kesamaan visi dan pola pikir, serta tindakan
yang saling menguatkan dengan fokus memberantas kemiskinan sangat diperlukan
dalam mengatasi kemiskinan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk
mengatasi kemiskinan adalah sebagai berikut:

·        
Peningkatan
Infrasturktur di daerah pelosok

Pembangunan infrastruktur
tentu akan memudahkan akses transportasi dan dapat meningkatkan ekonomi
daerah-daerah pelosok. Selain akses transportasi, pembangunan fasilitas listrik
juga perlu ditingkatkan mengingat masih banyak daerah-daerah plosok di
Indonesia yang belum memiliki fasilitas listrik

·        
Perbaikan
sistem kesehatan

Peningkatan sistem kesehatan dapat
dilakukan dengan banyak cara, salah satunya adalah peningkatan fasilitas
sanitasi. Sanitasi yang buruk di daerah-daerah plosok masih menjadi salah satu
masalah utamea dalam rendahnya tingkat kesehatan.

 

 

·        
Perbaikan
kualitas Pendidikan

Pendidikan menjadi masalah utama dalam lingkaran
kemiskinan. Anak-anak yang lahir dari keluarga miskin akan sulit untuk
mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Dengan rendahnya tingkat pendidikan,
maka akan sulit bagi anak-anak tersebut untuk mendapat pekerjaan yang layak dan
pada akhirnya mereka akan kembali hidup dalam kemiskinan. Pemerataan kualitas
pendidikan dan subsidi yang diberikan pemerintah untuk masyarakat miskin yang
tidak dapat mengenyam pendidikan menjadi kunci dalam pemberantasan kemiskinan

·        
Alokasi
dana untuk daerah-daerah pelosok

Pemerintah perlu mempertimbangkan
untuk mengalokasikan dana lebih untuk daerah-daerha plosok, sehingga
daerah-daerah tersebut dapat berkembang lebih pesat dan dapat menurunkan
tingkat kemiskinan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB
III
PENUTUP

1.     
 

2.     
 

3.     
 

3.1.     
Kesimpulan

Tanpa kemiskinan adalah tujuan
pertama dalam 17 tujuan Sustainable
Development Goals (SDGs) dan merupakan kelanjutan dari tujuan
utama MDGs. Kemiskinan sendiri merupakan kondisi kehidupan yang serba
kekurangan yang dialami seorang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan minimal
atau yang layak bagi kehidupannya. Kemiskinan harus segera diatasi mengingat
negara-negara dunia masih berperang melawan kemiskinan termasuk Indonesia. Yesus
datang ke dunia untuk mengakhiri kemiskinan dan penghapusan kemalangan.
Katekismus Gereja Khatolik mengigatkan kita bahwa harta benda ciptaan ini
diperuntukkan bagi seluruh umat manusia. Memberantas kemiskinan dapat dilakukan
jika semua pihak terlibat. Kerja sama antara pemerintah, akademisi, politikus,
dan masyarakat sangat diperlukan dalam pemberantasan kemiskinan.

3.2.     
Saran

Karya tulis ini
diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi pembaca dan dapat memberikan
wawasan tentang gambaran umum kemiskinan dan solusi yang dapat dilakukan untuk
memberantas kemiskinan. Terima kasih penulis ucapkan untuk kritik dan saran
yang sifatnya membangun yang nantinya disampaikan oleh pembaca, sehingga dapat
menjadi pegangan dalam penulisan berikutnya. Semoga karya tulis berikutnya
dapat lebih mudah dipahami oleh semua pembaca

DAFTAR PUSTAKA

https://kbbi.web.id/

http://www.materibelajar.id/2016/04/teori-kemiskinan-pengertian-definisi.html

http://www.landasanteori.com/2015/08/pengertian-kemiskinan-jenis-faktor.html

https://www.bps.go.id/pressrelease/2018/01/02/1413/persentase-penduduk-miskin-september-2017-mencapai-10-12-persen.html

http://sdgs.bappenas.go.id/tanpa-kemiskinan/

http://www.ekaristi.org/kat/index.php?q=2447-2452

http://www.sabdaspace.org/kemiskinan_perspektif_tanggung_jawab_kristiani

 

x

Hi!
I'm Homer!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out