Kelas keberagaman berupa suku, budaya, agama, bahasa, dan sejenisnya,

Kelas
Pluralisme Sebagai Sarana Penanaman Nilai-Nilai Toleransi dan Kebhinekaan pada
Generasi Muda

 

Pendahuluan

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Tahun 2045 merupakan tahun yang penting
bagi bangsa Indonesia. Pada tahun tersebut, Indonesia sudah mencapai
kemerdekaan yang ke-100 dan pada tahun 2020-2030 Indonesia akan mengalami bonus
demografi. Bonus demografi adalah (widow
of opportuniy) yang dinikmati suatu negara yang ada di dunia ini sebagai
akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif (rentang usia 15-64 tahun)
dalam evolusi kependudukan yang dialami oleh negaranya tersebut. Adanya bonus
demografi, menandakan bahwa pada era tersebut mahasiswa memiliki peran yang
penting. Mahasiswa sebagai insan yang terdidik memiliki posisi strategis karena
mereka merupakan bagian dari kelompok usia emas. Mahasiswa memiliki keunggulan
yang berguna bagi masyarakat, seperti kepemimpinan, keilmuan, inovasi,
kemampuan bahasa yang baik, dan lain-lain.

Dalam perjalanannya menuju generasi emas
2045, Indonesia memiliki permasalahan-permasalahan yang jika dibiarkan, hal
tersebut akan mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Banyaknya
pemahaman intoleran dan radikalisme yang berkembang di masyarakat merupakan
polemik yang harus segera diatasi, sebelum menimbulkan perpecahan yang besar di
antara masyarakat Indonesia.

Sebagai bangsa yang dianugerahi
keberagaman berupa suku, budaya, agama, bahasa, dan sejenisnya, pluralisme
merupakan suatu keniscayaan bagi bangsa Indonesia. Keberagaman tersebut
merupakan nilai-nilai luhur nenek moyang bangsa Indonesia yang harus dijaga.
Pdahal, tidak semua bangsa mendapatkan anugerah keberagaman tersebut. Terbukti
dengan adanya budaya bangsa Indonesia yang diklaim oleh bangsa lain. Hal
tersebut menunjukkan bahwa keberagaman Indonesia merupakan suatu hal yang
menarik perhatian masyarakat dunia.

Demi mewujudkan Indonesia
emas 2045, dibutuhkan nilai-nilai toleransi dan kebhinekaan bagi bangsa
Indonesia. Sebagai insan yang terdidik, mahasiswa mempunyai tugas mulia untuk
mewujudkan hal tersebut karena mahasiswa dibekali pengetahuan dan kemampuan
yang diperoleh di perguruan tinggi. Akan menjadi hal yang percuma jika ilmu
yang diperoleh tidak diamalkan kepada masyarakat karena pendidikan yang
diperoleh mahasiswa tidak bisa lepas dari jasa masyarakat. Bahkan menurut Tan
Malaka, bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya
terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan
cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan
itu tidak diberikan sama sekali. Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban mahasiswa
untuk menyebarluaskan pengetahuannya kepada masyarakat.

 

Isi

            Untuk menumbuhkan nilai-nilai
toleransi dan kebhinekaan di dalam masyarakat, kelas pluralisme bisa menjadi
solusnya. Kelas pluralisme merupakan sarana pembelajaran di mana masyarakat
diajarkan nilai-nilai yang hidup dan berkembang di masyarakat Indonesia, yang
merupakan warisan nenek moyang. Kelas pluralisme akan mendorong masyarakat
untuk menerima perbedaan dan lebih terbuka terhadap nilai-nilai baru karena
perbedaan merupakan suatu keniscayaan bagi bangsa Indonesia yang terdiri dari
masyarakat majemuk.

            Program kelas pluralisme membutuhkan
partisipasi mahasiswa demi mewujudkan Indonesia emas 2045. Sebagai agent of change, mahasiswa sudah
selayaknya berada di garda terdepan dalam menumbuhkan nilai-nilai toleransi dan
kebhinekaan pada masyarakat. Berbekal ilmu dan pengetahuan yang diperoleh di
perguruan tinggi, mahasiswa bisa menjadi mentor bagi generasi muda, khususnya
mereka yang jenjang pendidikannya berada di bawah mahasiswa.

            Sebelum terjun langsung ke
masyarakat, mahasiswa harus dibekali ilmu terlebih dahulu agar dapat menjadi
mentor yang baik. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
harus memberikan pelatihan secara rutin bagi mahasiswa memiliki kualitas yang
baik sebagai mentor. Selain itu, pemerintah juga wajib membuat kurikulum
terkait kelas pluralisme agar nantinya terdapat keseragaman materi yang
disampaikan. Pembuatan kurikulum oleh pemerintah sangat penting dikarenakan
pemerintah merupakan pihak yang mengetahui nilai-nilai apa saja yang harus
disampaikan pada kelas pluralisme.

Adapun dalam penyampaian materi kelas
pluralisme, peserta didik akan dikelompokkan berdasarkan jenjang pendidikan
yaitu, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah
Atas (SMA). Dilakukannya pengelompokkan bagi peserta didik dikarenakan tiap
kelompok usia memiliki metode penyampaian materi yang berbeda.

Pada tingkat Sekolah Dasar, peserta didik
diberikan materi terkait wawasan budaya Indonesia, seperti rumah adat, pakaian,
senjata, lagu daerah. Peserta didik juga harus mengetahui nila-nilai luhur
bangsa Indonesia: kejujuran, budi pekerti luhur, saling menghargai, dan
perbedaan. Diharapkan, peserta didik pada tingkat Sekolah Dasar mampu menerima
orang lain yang berbeda latar belakang, terutama suku, agama, ras, dan adat
istiadat.

Pada tingkat Sekolah Menengah Pertama,
peserta didik harus mampu mengamalkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dalam
kehidupan sehari-hari. Peserta didik juga harus mampu memahami tindakan apa
saja yang perlu dilakukan untuk mencegah perbuatan intoleran dan radikalisme.

Pada tingkat Sekolah Menengah Atas,
peserta didik diberikan pelatihan softskill
seperti negosiasi, public speaking,
persuasi, dan mempertahankan argumen. Mereka juga diharapkan ikut berperan
aktif dalam mencegah perbuatan intoleran dan radikalisme. Pada akhirnya,
diharapkan mereka memiliki paradigma bahwa keberagaman dan perbedaan bangsa
Indonesia merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindarkan, dan
merupakan suatu potensi besar.

Dalam menjadi mentor, mahasiswa dituntut
untuk membuat kelas pluralisme menjadi hidup. Penyampaian materi harus
interaktif dan semenarik mungkin. Komunikasi yang terjalin harus dari dua arah,
artinya peserta didik bukan hanya mendengarkan saja, karena jika peserta didik
tidak aktif, maka peserta didik hanya akan memiliki satu pandangan saja terkait
pokok bahasan. Adapun metode yang dapat dilakukan mahasiswa dalam kelas
pluralisme yaitu penyampaian materi, studi kasus, dan Focus Group Discussion (FGD). Dalam FGD, mentor memberikan suatu
premis (pokok bahasan) kemudian peserta didik mendiskusikan. Peserta didik
dituntut aktif dengan memberikan gagasannya. Melihat besarnya peran mahasiswa,
maka mahasiswa sebagai mentor harus mampu merefleksikan terlebih dahulu
nilai-nilai toleransi dan kebhinekaan sebelum menyampaikan kepada peserta didik.

Adapun untuk teknisnya, idealnya sebuah
kelas pluralisme diisi maksimal oleh 30 orang siswa dengan 5 orang mahasiswa di
dalamnya, yang artinya 1 mahasiswa akan menjadi mentor 6 orang siswa. Hal ini
bertujuan agar mahasiswa mampu meninjau perkembangan peserta didik. Satu
mahasiswa menjadi mentor 6 peserta didik bertujuan agar mahasiswa sebagai
mentor, bukan hanya bertugas meyampaikan materi, tetapi juga sebagai kakak.
Artinya peserta didik bisa dianggap sebagai adik asuh sehingga adanya
keterikatan secara batin yang membuat kelas pluralisme bukan hanya kegiatan
formal semata.

Bentuk evaluasi terhadap
kelas pluralisme dilakukan menggunakan buku kontrol. Buku kontrol tersebut
berisikan perkembangan peserta didik dalam mengikuti kegiatan kelas pluralisme.
Buku kontrol juga berisikan pencapaian-pencapaian apa saja yang sudah dilakukan
peserta didik sehingga akan terpantau sejauh mana peserta didik dapat memahami
materi yang disampaikan. Buku kontrol juga melibatkan peran orang tua.
Tujuannya adalah agar implementasi kelas pluralisme tidak hanya dilakukan di
kelas, namun juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Penutup

Dalam mencapai Indonesia emas 2045,
nilai-nilai toleransi dan kebhinekaan dibutuhkan bagi bangsa Indonesia sebab
bangsa Indonesia memiliki latar belakang yang beragam. Keberagaman bangsa
Indonesia merupakan anugerah dan potensi yang tidak dimiliki Negara atau bangsa
lain.

Untuk menumbuhkan nilai-nilai toleransi
dan kebhinekaan, mahasiswa memiliki peran yang penting. Sebagai agent of change, mahasiswa harus terjun
langsung ke masyarakat membagikan ilmu yang diperoleh di kampus, karena mahasiswa
memiliki hutang budi kepada masyarakat yang secara tidak langsung telah
memberikan sumbangan yang besar bagi keberlangsungan pendidikan yang diperoleh
mahasiswa.

Melalui kelas pluralisme, mahasiswa
dijadikan mentor bagi peserta didik yang terbagi dalam  tingkat pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah
Menengah, dan Sekolah Menengah Atas. Materi yang disampaikan terkait wawasan
nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang merupakan warisan nenek moyang yang tak
ternilai harganya. Dengan adanya Kelas Pluralisme, diharapkan bangsa Indonesia
menjadi bangsa yang dapat menerima perbedaan sehingga Indonesia Emas 2045 bisa
terwujud.

 

 

Biodata
Diri

 

Nama                           : Fathan Fadhlur
Rahman

Sub
Tema Esai            : Pendidikan

Asal
Universitas          : Unversitas
Padjadjaran

Jurusan                        : Ilmu Pemerintahan

Email                           : [email protected]

No.
HP                        : 081573415073

 

x

Hi!
I'm Homer!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out